Kalau dengar kata bubur pedas, yang kebayang mungkin bubur panas dengan cabai bejibun sampai bikin keringetan. Tapi kalau lagi main ke Kota Pontianak, Kalimantan Barat, bayangan itu bisa langsung buyar. Namanya memang Bubur Pedas atau dalam tradisi Melayu Sambas dikenal sebagai Bubbor Paddas, tetapi rasanya justru nggak selalu pedas seperti namanya. Kuliner ini punya akar tradisi Melayu Sambas dan kemudian populer sebagai salah satu makanan khas yang gampang ditemui di Pontianak. Yang bikin auto penasaran adalah isi mangkuknya. Bukan cuma beras dan kuah, bubur ini bisa diisi dengan beragam sayuran, umbi, rempah, sampai bahan pelengkap seperti kacang tanah dan ikan teri. Dalam sejumlah versi, jumlah bahan yang digunakan bahkan bisa mencapai puluhan jenis.
1. Isinya rame banget. Ada kangkung, pakis, tauge, kacang panjang, wortel, jagung, ubi, rebung, daun kunyit, hingga daun kesum. Beberapa versi juga memakai bahan lain sesuai ketersediaan di daerah atau kreasi penjual. Jadi jangan heran kalau satu mangkuk terlihat seperti “kebun mini” yang dicampur jadi satu.
2. Nama “pedas” ternyata punya cerita. Bubbor Paddas nggak identik dengan rasa cabai yang nyelekit. Istilah tersebut lebih berkaitan dengan keberagaman bahan, rempah, dan sayuran yang dicampurkan. Makanya, orang yang baru pertama mencoba sering dibuat bingung: “Lah, mana pedasnya?”
3. Daun kesum jadi salah satu pemeran utama. Aroma khas bubur ini salah satunya datang dari daun kesum. Selain itu, beras biasanya disangrai terlebih dahulu bersama kelapa parut sebelum dimasak. Proses tersebut menghasilkan aroma gurih dan karakter rasa yang beda dari bubur pada umumnya.
4. Topping-nya bikin makin niat. Setelah bubur masuk mangkuk, biasanya ada tambahan kacang tanah goreng, ikan teri, bawang goreng, sambal, jeruk nipis, atau kecap manis. Jadi teksturnya nggak monoton: ada lembutnya bubur, renyah kacang dan teri, plus aroma rempah yang cukup nendang.
Kalau dilihat dari sisi ilmiah, Bubur Pedas sebenarnya menarik karena dalam satu hidangan bisa terjadi kombinasi berbagai kelompok bahan pangan. Beras menjadi sumber karbohidrat, sementara sayuran dan umbi menyumbang serat, vitamin, mineral, serta senyawa bioaktif dari tanaman. Tambahan ikan teri atau daging pada beberapa versi dapat memberikan protein, sedangkan kacang tanah turut menyumbang protein dan lemak. Kementerian Kesehatan juga pernah mengulas Bubur Pedas sebagai hidangan yang dapat mencakup karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral. Dari sudut pandang urban, konsep seperti ini justru terasa relevan dengan gaya makan masa kini: satu mangkuk dibuat komplet, beragam tekstur, dan punya cerita budaya yang kuat. Menariknya lagi, banyaknya bahan dalam Bubur Pedas sebenarnya mencerminkan hubungan kuliner tradisional dengan sumber pangan lokal. Bahkan keberadaan sayuran seperti pakis, rebung, dan daun kesum membuat hidangan ini punya karakter yang susah ditiru kalau bahan aslinya diganti sembarangan.
Jadi, kalau suatu saat mampir ke Pontianak dan menemukan Bubur Pedas, jangan tertipu sama namanya. Ini bukan sekadar bubur yang dibuat untuk mengejar rasa pedas, melainkan semangkuk kuliner yang isinya ramai, aromanya khas, dan punya cerita panjang dari tradisi Melayu Kalimantan Barat. Sederhana dari nama, tapi kompleks ketika sudah masuk mangkuk.