Kalau ngomongin jajanan khas Bandung, rasanya kurang afdal kalau belum nyebut batagor. Camilan yang satu ini gampang banget ditemukan, mulai dari gerobak pinggir jalan sampai tempat kuliner yang lebih modern. Salah satu nama yang punya cerita panjang adalah Batagor H. Isan, yang berada di kawasan Gang Situsaeur, Bojongloa Kidul, Bandung. Menariknya, batagor ternyata bukan makanan yang sejak awal dirancang sebagai kuliner legendaris. Kisah yang banyak dicatat menyebut makanan ini bermula dari Haji Isan, perantau asal Purwokerto yang berjualan bakso tahu di Bandung pada akhir 1960-an. Saat dagangannya tidak habis, bakso tahu tersebut kemudian digoreng. Dari eksperimen sederhana itu, lahirlah makanan yang kemudian dikenal sebagai bakso tahu goreng atau batagor.
Ada beberapa hal yang bikin cerita batagor Bandung ini menarik dan nggak sekadar soal gorengan enak:
1. Berawal dari ide biar makanan nggak terbuang
Daripada bakso tahu sisa dagangan terbuang atau basi, Haji Isan mencoba menggorengnya. Ternyata hasilnya justru punya tekstur lebih garing dan rasa yang makin nendang.
2. Awalnya bukan langsung jadi makanan populer
Batagor disebut mulai dikenal di Bandung sekitar 1968 dan berkembang pada era 1970-an. Eksperimen sederhana dari pedagang keliling tersebut kemudian berubah menjadi usaha kuliner yang bertahan lintas generasi.
3. Nama “batagor” ternyata sangat sederhana
Nggak ada nama fancy atau branding ribet. Batagor merupakan kependekan dari bakso tahu goreng. Justru nama sederhana ini akhirnya melekat kuat sampai sekarang.
4. Resepnya berkembang mengikuti selera orang Bandung
Batagor umumnya menggunakan tahu dan adonan ikan, kemudian digoreng sampai renyah. Setelah itu, potongannya disiram bumbu kacang, kecap, sambal, dan perasan jeruk limau atau jeruk nipis.
Kalau dilihat dari perspektif kuliner urban, batagor sebenarnya contoh menarik bagaimana sebuah kota bisa melahirkan makanan baru dari proses adaptasi. Bandung sejak dulu menjadi ruang pertemuan berbagai pengaruh budaya dan kebiasaan makan. Batagor punya kemiripan dengan siomay dalam penggunaan adonan ikan dan tahu, tetapi teknik memasaknya dibuat berbeda: kalau siomay identik dengan kukusan, batagor justru mengandalkan proses penggorengan untuk menghasilkan sensasi renyah. Dari sisi pangan, proses penggorengan membuat permukaan makanan mengalami pencokelatan dan menghasilkan aroma serta rasa yang lebih kompleks melalui reaksi Maillard. Kombinasi tekstur renyah di luar, bagian dalam yang kenyal, lalu bertemu bumbu kacang yang gurih-manis-pedas membuat batagor punya karakter yang gampang diterima lidah. Jadi, kreativitasnya bukan cuma soal “menggoreng makanan”, tetapi bagaimana teknik sederhana tersebut menghasilkan identitas rasa baru. Kisah Haji Isan juga memperlihatkan pola khas kuliner urban: keterbatasan bahan dan kondisi dagang justru bisa memicu inovasi. Bahkan hingga 2026, Batagor H. Isan masih beroperasi dan generasi penerusnya terus mengenalkan resep tersebut, termasuk lewat kemasan vakum dan festival kuliner.
Pada akhirnya, batagor membuktikan kalau makanan legendaris nggak selalu lahir dari dapur mewah. Kadang, ide paling sederhana justru bisa jadi sesuatu yang bertahan puluhan tahun. Dari bakso tahu yang awalnya cuma solusi agar dagangan nggak terbuang, batagor berubah menjadi salah satu identitas kuliner paling kuat dari Kota Kembang.